Di Kota Zhurong, pada malam yang sunyi di Paviliun Bulan Perak, udara terasa tenang dan hangat. Cahaya rembulan menembus tirai jendela, menyinari wajah Leena yang tertidur di atas ranjang dengan napas yang mulai teratur. Beberapa helai rambut halus di dahinya bergerak pelan ditiup angin lembut. Suasana kamar begitu damai, seolah dunia luar yang penuh gejolak tidak pernah menyentuh tempat itu.

Tak lama, kelopak mata Leena bergetar. Ia perlahan membuka mata, bola matanya bergerak pelan mencoba menyesuaikan dengan cahaya sekitar. Pandangannya sempat kabur sebelum akhirnya fokus pada langit-langit kayu ukir di atasnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menyadari di mana ia berada.

Saat menoleh ke sisi ranjang, wajah Lynx muncul dalam pandangannya. Duduk di pinggir ranjang, Lynx tersenyum lembut, menatap Leena dengan mata tenang seolah mengabarkan bahwa semua baik-baik saja.

Mata Leena membesar sedikit, lalu pipinya memerah karena malu. Ia baru sadar sedang berbaring dan di perhatikan oleh banyak orang.

Di sekitar ruangan, terlihat Jelita, Isha, Lala, Kael, Arkha, dan Narendra tengah duduk mengitari meja bundar, tampak sedang menunggu-nunggu saat Leena sadar. Saat mereka melihat Leena membuka mata, suasana langsung berubah.

"Leena, apa kamu baik-baik saja?" tanya Lala penuh kekhawatiran. Ia segera bangkit dan berjalan mendekat, diikuti yang lainnya.

Narendra tersenyum tulus dan angkat bicara. "Leena, kamu memang luar biasa. Dalam waktu singkat... kau berhasil menjadi seorang Immortal." Ucapannya terdengar kagum, tanpa sedikit pun rasa iri, hanya kekaguman murni atas pencapaian yang luar biasa itu.

Leena tersenyum dan segera duduk. Tubuhnya dapat dia rasakan memiliki energi sangat melimpah, jauh berbeda dengan sebelumnya. "Maaf... sudah membuat kalian khawatir," ucapnya pelan, matanya menyapu wajah-wajah yang hadir.

Ia lalu memandang Narendra, kemudian yang lain satu per satu. "Kalian semua baik-baik saja, kan?"

"Kami tidak apa-apa," jawab Lala cepat. "Tapi kamu sendiri bagaimana? Apa roh jahat itu melukaimu?"

Jelita menimpali, ekspresinya tegang. "Siapa roh jahat itu, Leena? Apa kamu tahu siapa dia?"

Leena mengernyit bingung. "Roh jahat...? Maksud kalian apa?" Ia menoleh cepat ke arah Lynx, menuntut penjelasan.

Lynx masih dengan tenang menjawab, "Aku menemukan roh jahat yang bersembunyi di dalam tubuhmu. Dia membuatmu terluka dari dalam."

Wajah Leena langsung mengeras. Ia menggigit bibirnya dan merasakan firasat buruk menyusup ke dalam hatinya. Tanpa menjawab, ia segera duduk bersila dan menutup matanya, menarik napas panjang untuk masuk ke dalam lautan kesadarannya.

Begitu tiba di sana, kekosongan yang tak biasa menyambutnya. Biasanya di tempat itu duduk melayang wanita cantik dengan cahaya api suci... tapi sekarang? Sepi. Hening. Tak ada sosok perempuan yang biasa membimbingnya.

Leena membuka matanya dengan cepat, wajahnya pucat. "Lynx... apa yang kamu lakukan?!" suaranya gemetar, matanya melebar. "Di mana Dewi? Dia bukan roh jahat!" teriaknya cemas, tubuhnya condong ke depan, napasnya memburu. Kekhawatiran terlihat jelas dalam ekspresinya. Selain merasa bersalah, ia juga takut. Takut jika dewi api itu benar-benar terluka, atau lebih buruk... marah.

"Dewi?" bisik Kael pelan, saling bertatapan dengan yang lain, bingung.

Lynx mengernyit, lalu bertanya pelan. "Leena... jelaskan pada kami. Siapa dia?"

Leena menarik napas berat, lalu menjawab dengan penuh ketegangan, "Lynx, percayalah padaku. Dia bukan roh jahat. Dia itu... bisa dibilang guruku. Orang yang memberiku kekuatan dan mengajarkan teknik sehingga kekuatanku bisa seperti sekarang. Jika aku bisa berdiri di ranah Immortal hari ini... itu semua karena bantuannya."

Suasana di ruangan itu menjadi berat. Semua saling menatap, tak tahu harus berkata apa. Kini mereka menyadari kesalah pahaman yang terjadi dan alasan di balik kekuatan Leena yang meningkat secara drastis.

Lynx menunduk perlahan. "Dia... baik-baik saja," ucapnya pelan, terdengar agak bersalah. "Aku mengurungnya di dalam Pagoda Qingling. Aku tidak tahu hubunganmu dengannya. Aku kira... dia roh jahat yang mencoba mengendalikanmu."

Leena membeku, hatinya sedikit lega tapi juga semakin gelisah.

"Untung saja aku tak menghancurkan jiwanya," bisik Lynx pelan. "Kalau aku sampai melakukannya... bisa-bisa dia akan membenciku seumur hidupnya."

Leena yang kini memiliki pendengaran tajam melotot ke arah Lynx dengan tatapan kesal dan kaget,"Lynx, kamu..." Leena tidak bisa menyusun kata-katanya, dia ingin marah karena seseorang melukai orang yang sudah mengajarinya, namun disisi lain dia juga tahu bahwa apa yang dilakukan Lynx adalah demi dirinya, karena dia mengkhawatirkannya.

Lynx mengangkat tangan pelan dan mengeluarkan Pagoda Qingling dari dalam cincin penyimpanannya. Pagoda dengan pola awan itu berputar perlahan di atas telapak tangannya, memancarkan kilau lembut berwarna giok tua.

Saat itu juga Leena bangkit berdiri. Ia menatap teman-temannya satu per satu, lalu mengangkat tangan, menghentikan mereka yang hendak mendekat.

"Tolong... biarkan aku sendiri bersama Lynx," ucapnya lembut. "Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi. Dia bukan makhluk jahat seperti yang kalian pikirkan. Selain itu..." Leena menghentikan kata-katanya karena ragu.

Setelah terdiam sesaat dia melanjutkan,"Ranah kekuatannya terlalu jauh dari ranah kita. Dia berada jauh di atas Immortal."

Ucapannya membuat semua yang hadir tercengang. Bahkan Lynx menatap Leena dengan pandangan serius. Tidak mudah mengejutkan seorang sepertinya, namun kata-kata itu cukup untuk membuat pikirannya berputar.

"Leena, apakah kamu bercanda? Meski kita semua bukan penduduk asli tempat ini, tapi kita semua tahu ranah tertinggi di tempat ini adalah Immortal?" kata Lala. Selama ini dia merasa paling banyak mengetahui sejarah dunia ini.

"Aku akan menceritakannya kelak ke kalian." Leena menatap Lynx seolah mengajaknya berangkat sekarang.

Setelah hening beberapa saat, Lynx mengulurkan tangan pada Leena. Tanpa ragu, ia menggenggamnya.

Dalam sekejap, tubuh mereka menghilang dalam pusaran cahaya yang keluar dari Pagoda Qingling. Mereka mendarat di lantai pertama, sebuah ruangan luas yang dipenuhi aura spiritual yang sangat tenang. Pilar-pilar tinggi menopang langit-langit melengkung, dan cahaya keperakan memancar dari ukiran-ukiran yang berpendar di dinding.

"Leena," ucap Lynx sambil melangkah pelan ke depan. "Apakah dia berasal dari dunia surgawi?"

Leena terdiam. Wajahnya tampak kaget, lalu menoleh cepat ke arahnya. "Bagaimana kamu tahu tentang dunia surgawi?"

Lynx menatap langit-langit pagoda yang tinggi. "Sebelumnya, aku pernah bertarung dengan jiwa yang terkurung di lantai tiga tempat ini. Namanya Qian Xu. Dia mengaku berasal dari dunia surgawi… sebelum aku mengakhirinya."

Leena menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. "Benar, dia berasal dari dunia surgawi. Dia bernama Yan Ruyan bergelar dewi api."

Dalam diam mereka berdua melangkah melewati lantai dua dan menuju tangga ke lantai tiga. Namun baru menginjak beberapa anak tangga pertama, tubuh Leena mulai bergetar. Tekanan yang keluar dari tangga itu sangat berat, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menekan tubuh dan jiwanya bersamaan.

Ia menggertakkan gigi dan menyalurkan qi untuk menahan tekanan tersebut.

Lynx menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis. "Leena, kamu sudah mencapai Immortal pertengahan? Hebat juga."

Lynx kagum dengan kecepatan Leena, dari master foundation, menjadi grandmaster dan kini immortal, bahkan tingkat pertengahan. Dia merasa malu karena tidak banyak berperan dalam melatih kekuatan Leena. Dalam hati Lynx berkata,"Seandainya bukan karena batu meteor, aku pasti sudah jauh tertinggal dari Leena."

Wajah Leena memerah, napasnya memburu. "Tetap tidak sekuat dirimu. Aku harus mengerahkan kekuatanku hanya untuk menaiki satu anak tangga... sementara kamu bisa berdiri di sini tanpa masalah."

Tekanan semakin kuat seiring mereka melangkah naik. Leena nyaris kehilangan pijakan di anak tangga ke lima, namun sebelum tubuhnya limbung, tangan Lynx meraih pergelangannya dan menahannya dengan lembut.

"Tenang," bisik Lynx menggandeng tangannya dan mengalirkan energi sakti untuk membantu Leena melawan tekanan. Sorot matanya penuh perhatian, namun dalam kepalanya, ia sedang berpikir keras. 'Kalau begini terus, Leena bisa tersinggung karena aku selalu membantunya. Aku harus menyusun ulang formasi tempat ini agar Leena bisa melewatinya dengan kekuatannya sendiri. Tapi... kenapa tekanannya jauh lebih kuat dibanding sebelumnya?'

Lynx tidak mengetahui, dengan adanya Yan Ruyan, jiwa yang kekuatannya jauh lebih murni dan tinggi dibanding Qian Xu, inti pagoda menyerap energi spiritualnya untuk memperkuat sistem tekanan dan hukum di dalam pagoda sehingga kekuatan formasi yang sebelumnya di perbaiki oleh Lynx setelah mengalahkan Qian Xu menjadi meningkat otomatis seiring energi murni yang diserapnya.

Selain itu, pikiran Lynx yang terhubung secara langsung dengan inti pagoda mulai memengaruhi hukum di dalamnya. Pagoda Qingling adalah alat spiritual kuno yang merespon kehendak pemiliknya, dan sejak kekalahan Qian Xu, Lynx telah diakui sebagai tuan baru. Sekarang, saat Lynx berpikir tentang mengurangi beban Leena, pagoda menanggapi perintah batinnya. Dalam sekejap, tekanan berat yang melingkupi tangga menghilang drastis, seperti kabut yang tersapu angin.

Lynx tersadar akan reaksi pagoda dan langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Leena.

"Naiklah sendiri sekarang," katanya, memberi ruang.

Leena terhenti dan menatap Lynx dengan tidak percaya, namun dia dapat merasakan tubuhnya jauh lebih ringan.

Leena melangkah perlahan, dan seperti yang ia rasakan, semua terasa ringan. Ia menatap ke atas, lalu bergumam pelan, "Kenapa... setelah melewati tangga sebelumnya, semua terasa ringan? Apakah tekanan hanya ada di tangga terbawah?"

Lynx menggelengkan kepalanya. Tatapannya fokus pada dinding pagoda yang berkilau samar. "Tidak. Aku yakin... seluruh tempat ini dulunya memiliki tekanan jauh lebih kuat daripada di bawah terutama saat berada di lantai ketiga. Pasti ada sesuatu yang membuatnya berubah"

Ia melangkah naik menyusul Leena. Dan tanpa sadar, pandangannya mulai diarahkan pada lantai ketiga, di mana keberadaan Yan Ruyan menunggu, tersegel dan tidak senang. Apa yang menanti mereka di sana... bisa jadi lebih dari sekadar penjelasan.

